Senin, 25 Oktober 2010

Gelisah


Aku tersesat menuju hatimu, beri aku jalan yang indah
Ijinkanku lepas penatku, tuk sejenak lelap dibahumu

Beberapa hari ini tidurku tidak nyenyak, gelisah hingga dini hari tiba. Aku tahu, rasa lelah di mataku terpancar dengan jelas. Tapi sepertinya ngantuk yang kunanti tidak muncul saat kuinginkan. Rasa mual dan pusing tidak pernah absen saat kondisi seperti ini. Sepertinya rasa nyeri juga mulai muncul, aku juga tidak yakin nyeri itu berasal dari mana mungkin di bagian perut tapi sepertinya berasal dari usus-usus di dalam sana atau mungkin juga di ulu hati, ahh…. aku tidak peduli sumbernya karena terlalu terlena akan rasa tidak nyaman (bahkan menjadi rasa sakit) yang ditimbulkannya.
Tengah malam berganti hingga dini hari. Kubiarkan sosokmu menari-nari di kepalaku. Itu membuatku merasa sedikit lebih nyaman. Kamu pasti sedang menikmati indahnya dunia mimpi. Ingin sekali aku mengganggu tidurmu, masuk ke dunia mimpi indahmu dan membuatmu terbangun agar aku tidak sendirian menatap hampanya langit malam.
Dapatkah selamanya kita bersama, menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi, sesampainya akhir nanti selamanya

Aku masih ingat dengan sebungkus cokelat dan sebotol minuman dingin kamu menempuh puluhan km hanya untuk menemuiku, memastikan aku baik-baik saja. Aku yakin siapapun yang melihat kita saat itu pasti akan cemburu, tentu saja (meski ada yang bersikap biasa) membuat aku merasa terharu dan sedikit bangga.
Tentang cinta yang datang perlahan, membuatku takut kehilangan
Kutitipkan cahaya terang, tak padam didera noda dan masa

Hening kembali menguasaiku, sungguh tidak nyaman. Aroma malam membuatku ingin muntah.  Kulirik ponsel yang tergeletak di dekat bantal, sebaiknya aku menelepon seseorang. Mungkin seorang teman atau mungkin juga kamu. Akh… sebaiknya jangan, tidak baik menghubungi orang lain pada dini hari. Sebaiknya kukirim pesan singkat saja, itu tidak akan mengganggu. Kalimat “cant sleep dear” terkirim dengan selamat ke ponselmu. Aku berharap kamu membacanya saat kamu terbangun nanti, kamu pasti khawatir, dan segera menghubungi aku.
Hitungan menit berlalu, masih saja kupandangi ponsel yang sengaja kutaruh jauh di sisi sebelah utara dari letak bantalku. Masih sunyi dan hening. Sudahlah, kamu memang benar-benar bermimpi.

0 komentar:

Posting Komentar