Semalam, ketika browsing di internet aku membaca artikel yang mengatakan bahwa akan ada hujan meteor di langit malam ini juga. Wah... dag-dig-dug seketika jantungku. Selain dari fenomena alam yang sangat jarang terjadi, menurutku menyaksikan hujan meteor adalah salah satu petualangan seru, apalagi mitos yang mengatakan "make a wish" saat hujan meteor akan membawa dampak positif bagi sang wisher.
Kupersiapkan diri di loteng atas rumah. Dengan sentuhan romance dekoration ala korea di film-film, aku menyalakan beberapa lilin dengan mematikan lampu. Tidak lupa juga segelas cappucino cokelat kesukaanku dan juga beberapa potong kue. Tentu saja my littel nephew ikut serta, dia memang selalu ingin tahu apa yang aku lakukan. Sementara si Nyonya Besar Rumah alias kakak aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kami berdua.
Berusaha melawan ngantuk yang selalu menempel di pelupuk mata. Momen ini ga boleh terlewati. Waktu berputar semakin mendekati tengah malam.
"Tante,,,kita sedang apa seh? si mungil Angel pun bertanya setelah sedari tadi duduk melongo memperhatikan aku yang krasak-krusuk.
"Nunggu meteor lewat dengan sinar terang di langit sana," jawabku sambil menunjuk ke atas
Dia pun ikut-ikutan mendongak ke atas.
Masih belum ada tanda-tanda di langit sana, kelam dan hitam. Si kecil Angel mulai bosan.
"Kok langitnya masih hitam, Tante? katanya dengan suara khasnya yg mungil sambil mengunyah potongan kue
"Ia neh... meteornya lama banget iah,," jawabku tidak sabaran dan mulai gelisah.
"Jangan-jangan, motornya lagi kena macet..." jawabnya polos tanpa mengalihkan pandangannya dari potongan kue ditangannya.
Aku menahan senyum. Dasar anak kecil. Emang dia pikir di atas sana seperti jalanan di Jakarta, meski sudah ada traffic light tetap saja macet.
"Di atas sana semua planet baik Bumi, Mars, Pluto dan bintang-bintang ga bakalan kena macet sayang, karena mereka punya lintasan orbit yang berbeda." aku mencoba menjelaskan, meski kutahu dia tidak akan mengerti di usinya yang belum genap 4 tahun.
"Pluto? Tadi siang Angel lihat si Pluto di ikat di pagar, kasihan...," dia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan lagi "Tapi koq Tante bilang ada di langit, kapan perginya? tanyanya polos sambil menatap wajahku serius.
O ia, aku baru ingat, tetangga sebelah memelihara seekor anjing bernama Pluto. Anjing herder super galak yang mengejarku minggu lalu hanya karena lewat dari depan pagar rumah majikannya. Aku bergidik.
"Pluto yang ini beda loh, tanpa ekor, tanpa kepala, tanpa kaki maupun tanpa tangan. Pluto ini seperti Bumi, bulat begini," jelasku sambil mempraktekkan tangan membentuk lingkaran di angin. Dia manggut-manggut seolah-olah mengerti.
Kami terdiam. Hening sejenak. Pandangan mataku tetap tertuju ke langit. Memandang layar kosong yang hitam di atas sana. Dalam ruang hampa tanpa batas di atas sana aku menemukan bayangmu, tersenyum ke arahku, senyum yang sungguh menawan.
Hmff...perih, dingin dan sendu
"Emang motornya punya sayap iah Tante, koq bisa terbang di langit," tiba-tiba suara mungil itu membawaku kembali ke alam nyata. Ku alihkan pandanganku ke wajahnya yang bingung.
"Hahahaha... bukan motor tapi meteor, ngucapinnya begini me - te - or," Ucapku perlahan. Pantes saja dia bilang macet.
"Ooohhh... metero, eh meteor..." jawabnya sambil senyum. Duh manisnya,,,buat aku makin gemes
Sudah sejam lebih dari pukul 12 malam, langit di atas kami masih kelam, eh... tiba-tiba gerimispun datang.
Hufff...sebeeel. Langit mendung menutupi pemandangan indah jauh di atas sana.
"Wah, gerimis....," seru ponakan kecilku
Aku mengangguk perlahan, sambil meneguk cappucino cokelatku hingga tetes terakhir. Hembusan angin membuat sinar lilin-lilin di sekeliling kami meliuk-liuk seperti seorang penari.
"Oooh Angel tau...," teriaknya kegirangan. Apa lagi neh bocah. Pasti membuat kesimpulan yang aneh lagi.
"Meteornya ga punya payung tuh, takut hujan kan. Nanti sinarnya basah deh,"
Bener kan? Apa aku bilang, kalau ngomongin hal rumit dengan anak kecil pasti akan semakin aneh.
Tapi setidaknya sifat polosnya mampu menghilangkan rasa rinduku pada sosok nun jauh di sana dan juga mampu meredam kecewaku terhadap sang meteor.
Mungkin Angel benar, sang meteor butuh payung.