Senin, 12 April 2010

Berakhir

Hal bodoh jika aku mengakhiri hubungan ini, hubungan yang selama ini aku impikan sejak dulu, sejak zaman seragam putih abu-abu, sejak masa itu, kisah enam tahun silam. Tapi akan aku lakukan, secepat mungkin. Lebih bodoh lagi jika aku bertahan dengan keadaan ini. Lebih tepatnya kasihan. Aku mengasihani diriku sendiri yang tak ubahnya seorang pengemis – pengemis cinta. Mengemis cinta darimu, berharap mampu miliki hatimu dengan utuh.

Tiga bulan, waktu yang sangat singkat. Aku tidak ingin berlanjut untuk empat, lima bulan berikutnya. Cukup sudah. Apa yang aku pikirkan? Bodohnya. Itu yang selalu terngiang. Cintaku bukan cinta buta, tapi bodoh. Menunggu enam tahun, menutup diri dari cinta yang lain. Awalnya, aku bangga dengan prestasi itu, karena memang tidak sia-sia. Kamu hadir mengisi hari-hariku, memberiku harapan masa depan. Aku tersadar, ternyata kamu tidak memberiku cinta. Perih menyusup menguasai sudut hati ini.

Hidup denganmu hanya akan sebuah ukiran indah dalam memori ini. Dan berharap bisa terhapus oleh putaran waktu.

Terpuruk? Mungkin. Kecewa? Sungguh sangat kecewa. Mendung di wajahku berubah menjadi tetesan air hujan. Sikapmu yang menghindar menunjukkan semuanya. Nada bicaramu juga tidak menyembunyikan isi hatimu. Siapa yang harus kupersalahkan? Doaku kah yang salah selama ini? Tuhan tidak bertanggung jawab atas itu. Dia telah mengabulkan doaku. Dia memberi jawabannya.

Sepenggal doa yang terucap, agar kamu menemukan sebuah hati yang terbaik, tempat hatimu berlabuh, yang bisa menemanimu hingga akhir usiamu, mampu menerima hidupmu seutuhnya, yang mengerti apa yang engkau butuhkan. Bisa mendamaikan saat kamu merasa resah, bisa mendengar saat kamu marah, dan bisa membuat kamu merasa sempurna dalam semua kekuranganmu. Sungguh, aku percaya semua kebaikan akan dilimpahkanNya buatmu. Tapi sepertinya bukan aku.

Seharusnya dari awal aku meminta agar engkau menyayangiku seperti kasih sayang yang kumiliki. Tapi ketulusan membuatku merana. Apalagi yang kunginkan? Aku juga tidak ingin memaksamu bahagia denganku. Hatiku tidak sekejam itu. Aku hanya tidak beruntung karena tidak bisa meraihmu.

Namun, aku masih punya hari-hari yang lain, untuk bisa kembali meminta padaNya, akan semua harapan dan mimpi yang ingin kuraih. Mungkin aku juga perlu meminta padaNya agar saat terbangun besok, aku bisa melupakanmu. Semoga permintaanku kali ini tidak salah lagi.

All is over...

0 komentar:

Posting Komentar